the ostrich effect dalam pajak

mengapa kita menunda pelaporan pajak hingga menit terakhir

the ostrich effect dalam pajak
I

Bulan Maret hampir berakhir, dan kita semua tahu apa artinya itu. Notifikasi email dari direktorat jenderal pajak mulai terasa mengancam. Tiba-tiba, situs web pelaporan pajak menjadi tempat paling sibuk dan paling sering crash di internet. Kita duduk di depan laptop, menghela napas panjang, menatap layar dengan tatapan kosong, dan bertanya-tanya. Kenapa kita selalu berakhir di situasi ini? Kenapa kita menunggu sampai menit-menit dan jam-jam terakhir untuk melaporkan pajak tahunan kita? Apakah kita semua hanya sekumpulan pemalas yang tidak tahu cara mengatur waktu? Mari kita bedah fenomena tahunan ini bersama-sama.

II

Sebenarnya, melabeli diri kita sebagai "pemalas" itu terlalu menyederhanakan masalah yang jauh lebih kompleks. Mari kita mundur sejenak dan melihat sejarah evolusi kita. Otak manusia berevolusi di alam liar untuk merespons ancaman langsung yang ada di depan mata. Ada macan tutul di semak-semak? Lari secepat mungkin. Namun, otak purba kita ini tidak dirancang untuk menghadapi "ancaman abstrak". Ancaman seperti tumpukan dokumen finansial, angka-angka yang membingungkan, dan bayang-bayang denda keterlambatan dari negara. Dalam ranah psikologi, ada sebuah kecenderungan unik di mana manusia secara aktif menghindari informasi yang dianggap tidak menyenangkan. Kita sering berpikir, dengan tidak melihat masalahnya, maka masalah itu akan hilang dengan sendirinya. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat kita melihat amplop pajak atau e-mail pengingat itu datang?

III

Jawabannya tersembunyi jauh di dalam neurosains kita. Saat kita dihadapkan pada tugas yang memicu kecemasan, seperti menghitung angka atau mengingat kembali pengeluaran setahun terakhir, ada area di otak kita yang bernama amygdala yang tiba-tiba menyala terang. Ini adalah pusat alarm ketakutan kita. Menariknya, pemindaian otak melalui fMRI menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Antisipasi melakukan sesuatu yang kita benci—seperti mengisi formulir pajak yang panjang—ternyata mengaktifkan area otak yang sama persis dengan area yang memproses rasa sakit fisik. Ya, teman-teman, secara harfiah otak kita mencatat pelaporan pajak sebagai sebuah sensasi nyeri. Jadi, wajar saja kalau sistem pertahanan diri kita secara otomatis mengambil alih dan berbisik: "kerjakan nanti saja, mari kita scroll media sosial dulu untuk meredakan nyeri ini." Sayangnya, ada satu istilah khusus dalam behavioral economics yang membedah ilusi menenangkan ini.

IV

Fenomena psikologis ini dikenal sebagai the ostrich effect atau efek burung unta. Istilah ini pertama kali dipopulerkan dalam literatur keuangan oleh peneliti Dan Galai dan Orly Sade. Namanya diambil dari mitos populer bahwa burung unta mengubur kepala mereka di dalam pasir saat menghadapi bahaya besar. Walaupun secara biologis burung unta sebenarnya tidak melakukan hal konyol itu, metafora ini sangat akurat untuk menampar perilaku kita. Efek burung unta adalah sebuah bias kognitif di mana kita secara sadar menghindari informasi keuangan atau administratif yang berpotensi membawa stres. Artinya, kita menunda pajak bukan karena kita buruk dalam manajemen waktu. Kita menundanya karena kita sedang melakukan regulasi emosi yang buruk. Kita berusaha menghindari perasaan cemas, takut salah hitung, atau takut kurang bayar. Sayangnya, dengan mengubur kepala kita di tumpukan pekerjaan lain demi menghindari urusan pajak, kita justru sedang merakit bom waktu stres yang pasti akan meledak di minggu terakhir bulan Maret.

V

Jadi, pelajaran apa yang bisa kita bawa pulang dari sini? Pertama, mari kita berhenti menghakimi diri sendiri. Merasa enggan, malas, dan muak mengurus pajak adalah reaksi biologis dan psikologis yang sangat normal. Otak kita hanya sedang berusaha mati-matian melindungi kita dari rasa tidak nyaman. Kedua, cara terbaik untuk mengakali the ostrich effect adalah dengan memanipulasi beban emosionalnya. Jangan pernah menganggap pelaporan pajak sebagai satu monster tugas raksasa yang harus selesai dalam satu malam. Pecah tugas itu menjadi langkah-langkah kecil yang konyol. Hari ini, cukup buka situs webnya dan pastikan kita ingat kata sandinya. Besok, kumpulkan bukti potong di satu folder. Lusa, baru kita mulai mengisi angkanya. Dengan mencicilnya menjadi remah-remah kecil, kita sedang mengelabui amygdala agar tidak membunyikan sirine tanda bahaya. Pada akhirnya, pajak dan kematian memang dua hal yang tidak bisa dihindari. Tapi setidaknya tahun depan, kita bisa menghadapinya dengan kepala tegak, bukan dengan kepala yang terkubur ketakutan di dalam pasir.